Post Image

Salam Rindu Untukmu Stadion Maguwoharjo

Tak sadar kita berjumpa kembali dengan bulan Mei setiap tahun, bulan yang cukup spesial bagi tim kebanggaan kita yang bertambah usia. Tak terasa juga sudah hampir setahun lebih kita tidak berjumpa dengan sudut stadion maguwoharjo, tempat yang sangat akrab dengan kita. Laga terakhir pekan 34 kala itu menjadi perjumpaan terakhir kita, ya PSS melawan tim PS TIRA dan Persikabo dalam satu waktu. Pertandingan yang menurut kami tidak spesial, karena PSS kala itu sudah dipastikan bertahan di Liga 1 musim depan, namun lagi-lagi kami pun tidak bisa melewatkan pemain PSS berselebrasi merayakan gol kemenangan. 22 Desember siang seperti biasa kami berkumpul disalah tempat didekat stadion, hanya pegal badan akibat Currva Sud Fest yang membedakan dengan laga-laga biasanya. Beberapa jam sebelum kickoff kami tak sabar untuk segera bergagas berangkat menuju stadion dengan seteguk anggur sebagai tanda semangat kami. Sampainya di salah satu sudut maguwoharjo, kami pun disambut hujan deras penanda paruh pertama dimulai. 90 menit yang sangat kami nikmati kebersamaan dengan dinginnya stadion kala itu, untungnya sedikit terbayar dengan hangatnya flare penanda kemenangan dan pesta gol PSS di laga tersebut. Siapa sangka hujan deras di sore itu menjadi laga terakhir yang kami nikmati sampai bulan ini. Ah betapa rindunya kami akan hiruk-pikuk di setiap laga yang kami saksikan.

Entah kebetulan atau tidak, begitu banyak hal yang membuat perjumpaan kita tahun ini dengan stadion maguwoharjo selalu kandas. Dimulai dengan ketidak seriusan jajaran PSS dalam menyelesaikan 8 tuntutan yang diajukan, membuat kita secara berat hati harus menepi sejenak dari laga-laga PSS ditengah dan akhir pekan. Akibatnya diawal musim kita harus rela melihat PSS dijinakan di kandang sendiri oleh TIRAKABO yang kala itu dapat dikalahkan dengan mudah dibulan Desember. Belum sempat kita melepas rindu akibat boikot, kenyataan pahit lain pun harus kita terima. Dari hal yang tak kasat mata, memaksa aliran bola pun harus berhenti untuk sesaat. Pademi ini membuat sepak bola diseluruh dunia harus rehat dan membuat kita belum bisa membayar rindu tersebut.

Bagai gula yang tidak bisa lepas dari masakan jawa, kita pun juga sulit lepas dari gemuruh stadion maguwoharjo. Haridemi hari dilalui dengan kebosanan, tanpa perayaan pre match syndrome di salah satu bar maupun tanpa umpatan yang sering terlontarkan akibat kekecewaan kami kepada bek kiri bernomor delapan. Rasanya bosan sekali hidup tanpa sepakbola, ku rasa banyak orang setuju dengan hal tersebut. Sebagai mahasiswa, hanya ada rutinitas kuliah online tiap pagi hingga sore tanpa diimbangi sepak bola diakhir pekan. Tugas demi tugas yang kami kerjakan pun sulit rasanya dapat lepas dari pikiran rindu akan sepak bola. Beberapa saat tangganku berhenti sejenak diatas keyboard laptop, dan membayangkan indahnya laga-laga PSS kala itu. Rasanya ingin sekali menyudahi hariku di malam itu, dan berharap kabar baik segera datang di pagi hari.

Siapa sangka semua ini bakal terjadi diawal tahun ini, yang kata orang tahun penuh hal buruk, tak bosan pun aku mengumpat dan mengutuk tahun ini. Dan kini ku hanya bisa berharap, semoga PSS dan bumi ini lekas membaik, agar kita segera dapat bersua dengan bisingnya stadion maguwoharjo, bersorak lantang di sudut belakang gawang selatan, memuja-muja lambang candi di dada. Oh keadaan, lekaslah membaik, izinkan kita berjumpa kembali sesegera mungkin.

-Ganifesto