Post Image

Pada Bait Romantisasi PS Sleman

“ Iceland lebih cepat naik dan enak, kalo anggur harus beli banyak “ kami, dalam lingkaran kegembiraan. Walau belum tahu pasti kapan PS Sleman kembali berlaga di liga bobrok ini. Kami senantiasa memikirkan bagaimana nantinya saat liga kembali berjalan. Bagaimana suara kita bisa terdengar sampai lapangan walaupun dilarang  datang mundukung kebanggan, sampai obrolan ultras PSG yang merasa lebih Prancis daripada Prancis sendiri. Semua itu terlontar sembari melihat apa yang tak terlihat akhir-akhir ini, hampir setaun tidak merasakan adanya sepakbola. Memikirkan apa yang harus dilakukan untuk menutup tahun tanpa sepakbola selain tentang romantisme sepakbola itu sendiri.

Munafik jika minuman-minuman ini tak menyulut pembahasan kegelisahan, dan kok ya ndilalah e kegelisahan itu bukan perkara kisah cinta bak roman picisan ataupun suntuknya kelas daringdan kejaran deadline. Obrolan-obrolan pun mengalir tak terbendung dari mulut, dalam pengaruh alkohol menghantam perasaan teman-teman tidakhanya aku. Tentang menuju satu dekade Brigata Curva Sud.

“BCS meh sak dekade lho “

“Neng Sleman selain Sleman Football ki tulisane isine romantisasi yo “

Dibataspagar e Mas Tonggos kae isine romantisasi “

Obrolan yang belum pernah kami bahas sebelumnya, bagaimana ekosistem literasi yang dibangun di Sleman sendiri terlalu banyak romantisasi. Melihat bagaimana Sleman yang sedikit lagi dicengkram manajemen sepak bola industri, tribun selatan yangvsedang mencari pengganti dan kedepannya akan menciptakan apalagi. Sepertinya haruslebih menyadari kegelisahan tanpa romantisasi. Melihat bagaimana kenyataannya tanpa harus menyembunyikan luka dengan cerita – cerita dengan kalimat cinta. Bukannya aku tak suka, tapi perihal cinta kita kan masih sama bodohnya. Berawal dari Kegelisahan menjadi kekhawatiran ekosistem literasi kedepannya. Membuka pandangan-pandangan baru dari para penerus tidak hanya mengenai romantisme, dengan itu akan jauh mendorong kemunculan gagasan dan pemikiran lain menyambut 1 dekade lalu suporter ini terbentuk. Mengembalikan apa yang melenceng dan apa yang harus segera dimulai.

Dibataspagar menemani perjalanan setelah liga 2 selesai kita taklukan. Kami ditatih olehmu, kebanggaan Elang Jawa dibawah naungan Gunung Merapi dengan kegagahannya. Pun, kamu sering kali menceritakan PS Sleman Bersama dengan klub lain di luar negeri, keterikatan Bilbao dengan bangsa Basque, pada para petani di lereng Merapi namun kemudian kegelisahan kita pada hal-hal lain yang dekat menjadi lupa. Bagaimana kali Merapi yang tidak berhenti dikeruk habis dengan bengis, pada para petani yang meratapi gagal panen padinya dipagi hari. Masih banyak cerita-cerita lain selain romantisme untuk diceritakan.

Dari Tridadi kemudian Maguwoharjo lagi, cerita lawas dan era ‘emas’ kamu kemas agar kami merasa terkesima. Tak lupa, Dibataspagar yang hampir setiap bulan selalu kamu munculkan dengan apa yang sedang kamupikirkan. Yang paling menyenangkan mungkin duet mu dengan Kartogeni menuliskan PS Sleman dari sudut pandang kalian, bagaimana kami diajak melihat PS Sleman dari dua sisi mata yang berbeda, satu timur ataupun barat dan yang lain dari sisi selatan. Itu semua membuat pecinta PS Sleman mengamini dan mungkin sedikit senyum kecil karena kalimat-kalimat yang kamu buat. Tapi, sebelum matahari menyambut kembali pasti akan ada putaran sloki yang menemani gerutu-gerutu bagaimana mengembalikan uang awaydays yang dipinjam dari teman, sedangkan liabilitas awal bulan sudah menantang.

Diajaknya kami mengikuti alur ceritamu mengenai indahnya tumpukan beton tribun, roh si tuaTridadi, dan laga tandang yang mungkin di beberapa ceritamu adalah laga yang paling menyenangkan. Kamu mengemasnya dengan menarik, meromantisasi seperti Fiersa Besari yang telat akhil baliq-nya. Selanjutnya kita sampai lupa atas apa yang menjadi kewajiban dalam piramida hidup yang setelahnya.

Pada akhirnya, romantisasi pada tiap baris alineamu akan hilang juga setelah kami kembali menjalani kehidupan penuh kejaran tujuan. Tertutup pada riuhnya timeline mahasiswa yang menggerutu dengan tugas akhir dan tangisan akhir bulan, pada deadline pekerjaandan tagihan akhir bulan. Bukan maksud menyalahkan, tapi kita juga harus mengerti dan mengembalikan beberapa menit kehidupan tanpa PS Sleman. Pada Merapi yang selalu kamu jadikan subjek, dikeruk pasirnya dan kita masih seringlupa untuk menjaganya. Sisi lain dari PS Sleman maupun setiap individu yangikut merasakan masih memiliki banyak cerita yang tak terungkap. Romantisme menjadi cahaya penuntun dalam kehidupan sehari-hari tidaklah buruk, tetapi berawal dari itu untuk tidak lupa dalam kebahagiaan, kesedihan, dan kegelisahan di sekitar kita. Mungkin memperbanyak tulisan tidak melulu romantisme adalah cara menyerang terbaik dalam mengidupkan ekosistem literasidi Sleman hari ini.

Terimakasih untuk bait-bait romantisasi yang kamu ceritakan untuk PS Sleman, bagi kami yang yang akan memegang tongkat estafet kesedihan dan kegembiraan atas nama PS Sleman, semoga romantisasi dan cerita-ceritamu dari sudut pandang selatan bisa membuat kami lebih berpikir terbuka dan tidak lupa dengan piramida hidup kami yang lainnya.Sehat dan bahagia selalu Mas !

CHEERS!!

-Intelgoreng