Post Image

PASTI ADA SESUATU, SESUATU PASTI TERJADI

Sisilia Utara , 6 March 2021

Pukul 2:07. Masih terlalu dini untuk bangun tidur. Elang yang biasanya terlelap disarangnya sepanjang malam tiba tiba terbangun.  Pecah pekikanya memenuhi alam semesta membangunkan seisi hutan yang sejak lama menganggapnya tak ada karena matanya yg rabun, cengkramnya yang lemah dan  cakarnya yang tumpul. Riuh suasana gemrisik hutan  membawa desas desus mengagetkan. Setelah hidup bertahun-tahun dalam kesederhanaan terseok-seok memakan rerempahan sisa kompetisi rantai makanan,  kini tak disangka elang bangun lebih dini dari yang lain,  terbang jauh tinggi lalu kembali dengan membawa pulang hasil tangkapanya yang tak terduga. Tak pernah, tak pernah kulihat sebelumnya disarangnya terdapat  ayam bekisar merah merona yang membuat iri predator lainya. Sampai usiaku menginjak fase remaja, tak pernah, tak pernah kudengar cerita si elang pesakitan itu dapat ayam bekisar secantik itu, biasanya hanya kadal dan serangga yang mengotori paruh dan perutnya, itupun siang hari tanpa perlu terbang tinggi karena kadal dan serangga sering lalu lalang disekitarnya . Yang jelas tidak seperti hari ini  bangun dini hari, terbang jauh tinggi dan membawa pulang oleh oleh ayam bekisar yang menawan. 

Pikiranku berontak. Hal apa yang baru saja terjadi, si elang bangun terlalu dini? Bekisar cantik itu kini disarangnya? Ini tak mungkin, pasti ada sesuatu  sesuatu pasti akan terjadi. Gelisah resah diriku tak seperti yang lainya.

Senang jelas senang seluruh hutan menyambutnya riang terutama kawan- kawan sepohonya yang hijau rindang. “Ora Umum” “Wayahe Wayahe” “Suatu hari yang bukan elang sekali” “Ale” teriakan teriakan macam itu memenuhi seisi hutan tanda kebahagiaan. Sebagian besar dari mereka beranggapan bahwa si pesakitan sudah sembuh siap terbang tinggi jauh tanpa takut tersesat bahkan dimalam hari,  mungkin akan mampu membawa mangsa yang lebih besar lagi karena cengkram dan cakarnya tak sepele seperti dulu.  Tapi kalimat "pasti ada sesuatu, sesuatu pasti akan terjadi" menyeruak dari ruang kosong dalam pikiranku. Monolog dini hari yang menyebalkan. 

Desas desus berhembus dibawa angin menembus bantal yang sudah kututup rapat rapat di telingaku. 

"Malaikat pemberi rezeki dari pulau seberang belum lama ini singgah di pohon rindang rumah si elang, menyembuhkan sakitnya yang sudah menahun"

Bisik kalimat itu bergetar di gendang telingaku. Jantungku berdebar lagi.

"Pasti ada sesuatu , sesuatu pasti akan terjadi".

Monolog menyebalkan itu muncul lagi. 

Semoga benar gosip itu, semoga benar yang menyembuhkan si elang pesakitan itu memang malaikat pemberi rezeki yang baik hati. Yang ikhlas, yang sepenuh hati, yang tidak meminta timbal balik. Sehingga elang bisa bebas terbang tinggi menggapai mimpi. 

Semoga bukan, Semoga bukan setan atau iblis yang menyamar menjadi malaikat. Yang memberikan harapan dan nikmat sesaat tetapi sengsara setelahnya. Yang hanya memberikan bahagia sementara penuh tipu daya. 

Pasti ada sesuatu, sesuatu pasti akan terjadi. Semoga sesuatu itu sesuatu yang baik. Bukan sesuatu yang buruk. Sebab jika si elang sampai diberikan harapan palsu hingga meneteskan air mata dan sembab penuh kesedihan. Yang kecewa, yang sedih, dan yang marah adalah seisi hutan. Jangan kira seisi hutan akan diam saja. Sampai ke penjuru mana pun 'malaikat' bohongan itu pergi pasti akan diburu dan mati jika sampai menipu. Jangan kira seisi hutan hanya diisi individu-individu biasa, banyak kamerad-kamerad yang gila dan tak takut pada siapa, menyerang lewat kata-kata, nada suara, goresan tinta, sampai jurus tak terlihat yang tak bisa dijelaskan lagi tidak masuk di akal. Karena memang begitu adanya. Na'udzubilahi min dzalik, semoga jangan. 

Kenapa elang pesakitan itu begitu istimewa bagi penghuni hutan yang lain terutama kawan sepohonya. Karena sejak bayi elang tersebut dijaga, dirawat dan dihidupi oleh kawan sepohonnya yang hijau rindang. Dari tidak bisa terbang hingga bisa bercongkol dipohon tertinggi walaupun baru kesampaian kurang lebih 2 tahun yg lalu (2018) dengan perjuangan luar biasa  berkali kali terjatuh dan mencoba, bahkan disatu waktu yang sial ia sempat terjatuh di kotornya sarang gajah. 

Menangis, merintih, tertatih tatih untuk berjalan. lalu kini setelah beberapa tahun "malaikat" itu hadir memberikan harapan elang untuk bisa terbang lebih tinggi lagi untuk menembus luasnya langit Asia katanya, 3 tahun lagi, 3 tahun lagi, 3 tahun lagi. Semoga saja iya. Jika “Malaikat” itu bohong sudah kuceritakan diatas akibatnya, namun jika 3 tahun lagi rencana “Malaikat” itu terwujud semoga kawan sepohonya yang hijau rindang tidak lupa untuk menjaganya, jangan sampai meninggalkanya atau bahkan melupakanya dalam sunyi karena sudah dianggap bisa terbang tinggi dan menjaga diri. Pohon itu harus selalu hijau setiap waktu, jangan hanya saat singa, buaya, macan  atau maung saja pohon itu ramai lalu dijadikan tempat untuk berlindung dan berteduh. Mari temani  elang-mu,elang-ku, elang-kita setiap waktu. Ingat  "malaikat" itu mungkin cuma mampir, kita yang abadi temani elang sampai mati. Amin.

Oleh: Bajing, yang tidak bisa loncat.