Post Image

Menantang Kutukan, Mengutuk Pantangan

Sudah genap seminggu ku tekuni hobi baruku; menggerutu. Maret yang satu ini benar-benar marai mumet. Dimulai dari progres kuliah yang serba seret, birokrasi bisnis yang semakin ribet, ditambah kabar PSS yang semakin ruwet. Linimasa aplikasi burung biru kian riuh dengan paradigma serikat pro dan barisan yang kontra kebijakan. Inkonsistensi akun berdasi membuat banyak kepala berasumsi sendiri, cintaku pada PSS kini terkendala dan tak terkendali.

“Neng ndi? Ayo to. Biasane” ku kira ini adalah komando. Oke.

Hari ini tepat lima hari menuju laga pertama PSS diajang piala mentri. Belum genap dua kali sebatang sejak aku datang, topik obrolan digodhok sudah setengah matang. Kabar kabur soal tim kabupaten yang mulai banyak disebut di cerita orang karena belanja gilanya semakin sering kudengar. Guyonan soal launching berbayar dan keanehan-keanehan yang terjadi pra-acara membuat perbincangan semakin melebar. Entah apa maksud sebenarnya, faktanya konsep tersebut membuat publik semakin heran dan penasaran. Kupikir semua orang berhak dan gratis untuk sekedar berkenalan. Kadang kurasa semakin banyak saja pantangan yang dihadapi untuk terjatuh dengan cinta kepada tim kebanggaanku sendiri. Enyahlah maka enyahlah.

Sing bener ki tak kenal maka tak sayang, opo tak kenal maka tak bayar? Oh iyo.    

Lingkaran semakin lebar begitu pula obrolannya, tanpa diaduk kita semua sudah larut. Ngalor-ngidul walaupun ra ngidul banget (haha). Duduk yang demikian adalah yang nyaman dan tak ingin segera berdiri. Aku nyalakan lagi sebatang, kujepit di dua jari, kuhisap dalam-dalam meski masih tak sedalam kebingunganku.

PSS saiki wes bedo. Eh, opo cen aku sing ora terlalu kenal PSS yo? Pengen kenalan tapi kok ngono, pengen ra kenalan kok ngene. Monolog itu terus terulang sampai tak sadar melamun.

Cukup banyak yang bisa kubawa pulang dari obrolan ini. Melewati sepertiga malam di tongkrongan, sepertinya bijak untuk kukemasi obrolanku sambil berpamitan. Kupasang headsetku, ku putar musik 80 bpm instrumental milik Soulchef, kupacu motorku melewati Palagan, monolog itu datang lagi. Shit.

Menajadi supporter serba salah sekaligus selalu benar

***

“Posdim”

“Posdim”

“Posdim”

Begitu isi pop-up pesan di handphoneku sejak kumandang ashar. Hari ini adalah 24 jam terakhir menuju sepak mula laga perdana Elang Jawa. Sejak tadi malam orang-orang sudah banyak menyusun rencana perihal lokasi pertemuan, menu jamuan, dan intro perbincangan-perbincangan yang sepertinya memang asik kami bicarakan nanti. Rasanya sudah sangat lama tak melihat gairah semacam ini disini. PMS!

Satu jam menuju matahari terbenam titik kumpul sudah ramai masa. Lingkaran-lingkaran kecil mulai riuh menyuarakan opini-opini dan ramalan laga mendatang. Well-shit-gasm! Saling bertukar ide, kelakar dan putar cawan. Malam ini akan menjadi malam yang panjang. Kurasa The Adams pernah meramalkan malam seperti ini lewat lirik Konservatif nya. Saat air engkau suguhkan dan kita bicara tentang apa saja. Belum sempat kami merapal chants sembari genjrengan, jarum pendek menunjuk angka Sembilan.

“OK! Move move!” seperti biasa, kurasa ini komando. Pause dulu perbincangan ini, kita pindah lokasi sebelum aparat datang. Aparatteros!

Delapan menit dari titik kumpul tadi, kini kami sudah berada di Sundanese pub (baca: burjonan). Tak ingin membuang waktu terlalu lama, gelas-gelas itu mulai berputar kembali. Enam senar gitar dipetik mengalun mengiringi lagu-lagu pandemen PSS dan syair-syair nggerus khas muda-mudi trendi masa kini. Suara kami menjelma do’a, gerak tubuh kami isyarat penuh asa, esok kami akan poin tiga. Ketakutan akan permainan yang jauh dari harapan seolah sirna. Awal mula memang bukan segalanya, tapi bukan berarti tak berarti. Esok akan kita lihat bagaimana sing jarene ‘Los Slemanticos’ akan berlaga.

Hari ini sudah besok. Today is PSS day!

Tepat 24 jam setelah memulai ritual Pre-Match kemarin kini beberapa kawan berkumpul untuk menyaksikan penggawa berlaga. Awal yang luar biasa kulihat PSS dari kejauhan. Klub sekelas banteng merah putih timur Jawa cukup kewalahan meladeni tim kabupaten yang baru dua musim kurang berlaga di kasta teratas.

“Gooooooooooolll!!! Asuuuuu wangun tenan cahhh!!!” koe ngeri, Man.

Empat puluh lima pertama berjalan cukup baik. Semoga sisanya berjalan lebih baik. Ayo!

Tempo permainan melambat, keputusan sering diambil terlambat, garda serang sendiri tak pernah lewat. Keadaan berbalik begitu pula dengan skor di papan. Tiga poin pertama gagal masuk kantong. Los Slemanticos kalah dengan berdarah. What a comeback. Fuck!

…..

 

Hal-hal ini terjadi. Ekspektasi yang telah terbang tinggi akhirnya hilang kendali. Orang bijak pernah berkata ‘bermainlah dengan hati’ maka tidak kah kamu? Sebentarnya persiapan bukanlah yang bisa disalahkan, karena sejak awal memang seharusnya sudah dipersiapkan, maka tidak kah kamu? Kemistri dan intuisi yang belum optimal harusnya bukan soal karena keduanya adalah bagian inti yang harus dimiliki sebuah tim sepak bola di dalam maupun di luar lapangan, maka tidak kah kamu? Keterlibatan-Nya dalam mengirim Fortuna juga bukan hal yang bisa disepelekan, maka tidak kah kamu?

Tunggu, tunggu dahulu. Ku lempar balik memoriku, menuju Jogja City Mall dan Stadion Magis-ku. Kuingat aku pernah merapal do’a-do’a bersama para punggawa beserta seluruh keluarga tim dan pendungung PSS-ku. Mantra dan harapan yang diaminkan bersama bukankah menjadi katalis terkabulnya asa dan datangnya Fortuna. Maka tidak kah kita?

Kuingat lagi beberapa hari yang lalu. Mungkin aku yang lupa menyelipkan mantra-mantra yang kusebut do’a sesuai agamaku, agamanya, dan bisa juga agamamu. Perkenalan ku pada punggawa yang terbatas jarak dan waktu agaknya membuatku lalai memohon agar fortuna itu selalu membersamaimu, membersamai kita.

Tuhan, hambamu memohon kembali tanpa rasa ragu meskipun sedikit malu, atas jumawa-jumawa ku (mungkin) juga tim sepakbola kebangganku. Bersamailah  seluruh elemen Super Elang Jawa dalam mengarungi semesta sepakbola di Indonesia, Asia (2023 semoganya), dan seluruh dunia nantinya. Sertakanlah keberuntungan dan jauhkanlah penyakit yang dapat disupanya uang menjadi peluang dan sebaliknya. Sirnalah kutukan-kutukan dan kendala-kendala di perjalanan. Mampukanlah Sleman. Segerakanlah Sleman. Waraslah-waras Sleman.

Bajingan saja berdo’a. Ayolah maka ayolah.

***

Adalah ketidak wajaran ketika supporter telah mewajarkan tim kesayangannya menelan kekalahan. Sleman dengan fafifu dari awal rumor perkenalan hingga kekalahan di pekan awal membuatku semakin gusar. Hari ini harusnya jadi pembuktian, minimal menghapus dahaga kemenangan yang sama sekali belum aku (kami) rasakan dibawah asuhan DA.

Pukul 12.35 langit Gejayan mendung, kupikir ini juga bukan pertanda akan hasil nanti sore. Sisa-sisa keyakinan yang kupunya harus terus ada meskipun tidak lebih banyak dari kekhawatiran. Aku melaju menuju timur kota, berkumpul bersama beberapa kawan sambil menyaksikan PSS tampil. Menanglah menang.

Sejak sepak mula PSS terus menyerang pertahanan Lamongan. Yo nyerang thok, ning ra gol blas. Asu! batinku. Untuk melakukan tembakan ke arah gawang saja PSS masih sangat kesulitan. Mimpi usang juara liga masih jauh untuk diwujudkan apalagi bualan soal liga Asia kata anak baru itu, dengan permainan macam ini tentu nihil dan nyaris mustahil.

Babak kedua kukira akan menjadi permainan yang berbeda untuk PSS. Jebul podo wae, suog. Kulihat hanya beberapa pemain saja yang siap berdarah untuk PSS, kuperhatikan nyaris tak ada pemain yang tampil layaknya elang kelaparan yang siap memangsa lawannya. Persetan dengan pra-musim, ini adalah laga resmi yang dengan sadar diikuti (bahkan katanya diusulkan) oleh PSS. Kurang dari 10 menit pertandingan berakhir, PSS mendapat giveaway penalty dari juru adil pertandingan. Evans sebagai algojonya justru gagal merubah (satu-satunya) peluang emas yang bisa membawa tiga poin untuk PSS. Utekke.

Percaya pada proses bukan masalah, perihal setia juga bukan soal. Ketahuilah bahwa suporterlah yang lebih lama ‘berada’ di PSS. Suporter bukan yang seketika datang saat PSS sedang berada di kasta tertinggi, bukan yang datang saat secercah cahaya itu mulai terang, pun bukan yang melulu berkoar soal filosofi dan prinsip. Dogma lawas soal kesetiaan juga masih dengan teguh terpegang.

Menang kami bangga, imbang kami percaya, kalah kami setia.

Maka rasah ngajari, su!

Bagiku ini adalah salah satu pra-musim paling hambar di lima tahun terakhir. Bisa juga dikatakan bahwa tahun ini (setidaknya dua pertandingan yang sudah) merupakan yang terburuk. Mencetak tiga gol selama setahunan dan DUA POIN dari lima pertandingan bukankah hal yang payah? Bahkan kuingat ketiga gol tersebut bukan dari skema bola hidup. Filosofi apakah yang sedang kau bangun, Mar?

PSS yang hari ini bukan yang hanya sampai 2023, bukan juga yang berawal dari musim 2019 dan yang dikemudikan oleh manajemen yang baru. PSS yang hari ini adalah yang sama dengan hari-hari sebelumnya dan selanjutnya. Menghargai proses bukan berarti tidak menghargai protes. Jika sebuah bangunan sudah berdiri bukankah tugas selanjutnya adalah renovasi? Pondasi yang tertanam tak perlu dicabut, dipindah, apalagi diubah. Terkecuali, PSS-mu dan PSS-ku adalah marwah yang berbeda. Niscaya kita sedang bersebrangan.

Ingatlah maka ingatlah!

 

Gim, 2021