Post Image

LARON

Asap mengepul dari mulut driver ojek online yang sedang duduk termangu di bangku kayu. Tangan kanannya sibuk memegang selinting tembakau, sementara tangan kirinya sibuk memainkan telepon pintarnya. Tatapannya begitu fokus, matanya sama sekali tak berpaling mengamati layar berukuran lima inch. Kopi hitam yang ada di depannya sudah tidak ia hiraukan lagi. Masih sisa setengah gelas sebenarnya. Namun daripada mengkhawatirkan setengah gelas kopi yang mulai dingin, sepertinya ia lebih khawatir pada target poin yang tak kunjung tercapai.

“A’ mie dok-dok satu minumnya es teh ya,” sementara aku memesan makananku dan mulai memilih tempat duduk. Suasananya memang tidak begitu ramai ketika itu. Dari sepuluh meja hanya tiga saja yang terisi. Satu meja ditempati bapak-bapak ojol yang kopinya mulai dingin tadi, satu meja ditempati dua orang remaja yang duduk berhadap-hadapan mepet tembok dekat sumber listrik, satu lagi ditempati oleh mas-mas yang sedang menunggu pesanannya selesai dibungkus. Mungkin karena hari sudah cukup larut, atau karena sudah lewat dari jam makan malam juga, sehingga pelanggan yang datang mulai berkurang.

Berbanding terbalik dengan situasi di lini masa seharian ini. Netizen kabupaten dibuat heboh dengan pergerakan PS Sleman di bursa transfer. Ketika tim lain masih nampak santai-santai saja, Super Elang Jawa sudah tancap gas dan membeli beberapa pemain baru menjelang bergulirnya Piala Menpora. Pemain yang didatangkan pun bisa dibilang tidak main-main dan memiliki nama yang cukup tersohor di dunia kulit bundar Indonesia. Nama-nama macam Irfan Jaya, Kim Jeffrey Kurniawan, hingga Fabiano Beltrame berhasil diboyong ke Tanah Sembada. Sukses membuat keheranan Sleman fans yang dalam beberapa tahun ke belakang tidak kulino mengawali pra-kompetisi dengan kondisi seperti ini.

Aku memilih duduk di sisi kanan warung, dekat dengan tembok. Menghadap ke arah layar kaca yang tidak menampilkan siaran televisi, tetapi malah barisan judul-judul lagu. Ska dan raggae menjadi aliran utama ketika itu. Berbagai tembang terdengar silih berganti keluar dari speaker aktif yang terpasang di sudut warung. Sembari menunggu pesanan tiba, kukeluarkan gawai untuk kembali mengamati timeline. 

Topik yang dibahas masih belum berubah seharian ini, pemain baru PS Sleman. Kemruweknya lini masa ini lama-lama terasa menjengkelkan juga. Apalagi mereka yang terlalu takjub dengan datangnya pemain “bintang”. Seperti laron yang terpukau dengan terangnya cahaya. Pertama yang nampak hanya segelintir. Lama-lama bertambah, bertambah, bertambah dan semakin menggangguku. Mungkin jika sepakbola adalah cahaya dan fans adalah laron, maka saat ini PSS adalah cahaya yang bersinar lebih terang daripada biasanya. Juga lebih terang dari beberapa cahaya yang lain, sehingga banyak sekali laron yang berkerumun mengitarinya.

Laron memang butuh cahaya untuk menjalani siklus kehidupannya. Namun jika terlalu lena, bukankah itu justru berbahaya bagi dirinya. Laron yang terlalu terbawa euforia terbang mengelilingi cahaya tanpa menghiraukan kiri-kanannya. Tidak peduli apakah di sekitarnya ada predator yang siap memangsanya atau tidak. Parahnya lagi jika ia sampai tidak bisa membedakan mana cahaya yang memang seharusnya bersinar terang seperti itu, mana cahaya yang memang sengaja dipasang dan memiliki tujuan tertentu. Apakah cahaya itu hadir sebagai juru selamat, atau datang dengan penuh muslihat. Memancing banyak laron, sebelum kemudian menjebaknya dan menjadikannya peyek. 

Bukankah sepakbola sudah menjadi industri? Lalu industri yang seperti apakah itu? Budidaya laron atau jualan peyek laron? Entahlah. 

“Ini a’ mie dok-doknya.” Suara mas-mas penjaga warung mengalihkan perhatianku dari layar smartphone.

“Nggak ada peyek laron ya a’?” Tanyaku.

“Nggak ada e a’.” Jawabnya menimpali dengan raut setengah keheranan.

Sepertinya nggak buruk-buruk amat jika warung ini juga jual peyek laron. Pasti bakal laris, pikirku. 

Aku mulai menyeruput mieku sedikit demi sedikit. Lebih penting untuk segera mengisi perut yang lapar daripada mengisi siapa yang kira-kira bakal masuk starting lineup. Beberapa seruputan sebelum kemudian kudiamkan karena masih terlalu panas. Kembali kuamati timeline sembari menunggu makananku agak dingin. Aku masih tidak habis pikir, kenapa banyak yang kelewat senang dengan kedatangan pemain bintang. Menengok kembali ke beberapa tahun silam, ketika kita pernah punya Si Ular Phyton, atau penyerang legenda dari Singapura. Namun apa? Bukankah permainan mereka juga biasa saja? Label bintang bukanlah jaminan.

Mungkin saja itu terjadi karena mereka sudah berada di akhir era keemasan mereka, sehingga peforma mereka sudah mulai menurun dan tidak segemilang sedia kala. Lalu bagaimana dengan “bintang” kita saat ini yang pernah bermain di Espanyol B, Malaga B, yang masih berada di usia keemasannya sebagai pesepakbola. Apakah permainannya sudah bisa dibilang di atas rata-rata? Ya, mungkin saja. Toh, nyatanya dia lebih dibutuhkan dibanding penyerang Ukraina dan Si Kentang. Sepertinya jumlah gol, jumlah passing dan jumlah intercept bukanlah bagian dari prinsip dan filosofi tim sehingga dia lebih sesuai dan tetap dipertahankan.

Hari semakin larut. Lalu-lalang kendaraan mulai memudar. Suasana semakin sunyi. Yang tersisa hanya ramainya dua bocah yang sedang memiringkan gadgetnya dan juga tentu saja, lini masa. Di sudut warung suara speaker jadi terdengar semakin jelas. Playlist masuk pada sebuah lagu yang intronya dimulai dengan petikan senar gitar yang khas. Disambung dengan suara tabuhan drum dan tiupan saxophone yang membuat suasana menjadi kejamaika-jamaikaan. Lagu yang seolah menjadi jawaban atas kegelisahanku malam itu.

“Tak selalu yang berkilau itu indah, tlah terbukti di dirimu, pergi dan sakitiku..”

Hmm.. Benar juga ya, yang berkilau memang tak selalu indah. Bisa saja ia hanya menyilaukan mata dan membuat pandangan jadi kabur. Membuat mereka yang menatapnya terbawa suasana, sehingga lupa bahwa ada delapan tuntutan yang masih belum sempurna dan perlu dipantau perkembangannya. Aku menghayati benar lagu yang sedang diputar itu. Mie dok-dok yang ada di depanku sudah tidak kuhiraukan lagi. Masih sisa setengah mangkok sebenarnya. Namun daripada mengkhawatirkan setengah mangkok mie yang mulai dingin, sepertinya aku lebih khawatir pada delapan poin yang tak kunjung tercapai itu.

Gembira dengan kedatangan pemain bintang boleh saja, apresiasi untuk pergerakan tim di bursa transfer kali ini yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Namun ingat, jangan sampai terlena. Sebab tidak seperti mata laron yang mudah teralihkan oleh segala sesuatu yang berkilau, mata elang harusnya jauh lebih awas dan tajam.

(Rdvc)