Post Image

BERJUDI TANPA SBOBET

Dari Aceh hingga Jayapura mungkin sebuah kabupaten di utara Yogyakarta itu menjadi daerah yang paling aktif. Bukan aktif karena gunung merapi yang enggan absen mengeluarkan guguran materialnya, namun aktif dalam mempersiapkan tim di kompetisi mendatang. Euforia bursa transfer pun sangat meriah, pemain-pemain dengan nama besar pun diboyong menuju stadion Maguwoharjo, tak terkecuali Kim Jeffrey yang menyusul sang kakak perempuan yang sudah duluan tinggal di perumahan mewah daerah Palagan.

Gerak gerik yang cukup aneh bagi klub kabupaten itu, biasanya PSS terbiasa dengan kata deadline di bursa transfer tiap musim, hingga pada akhirnya banyak media nasional yang memanfaatkan pergerakan transfer PSS kali ini untuk meningkatkan engagement, vibes pra musim terasa sekali, padahal belum tentu peluit kickoff dibunyikan akhir bulan nanti. Melihat PSS yang jor-joran, pikiranku terlintas mengenai politik dalam sepak bola.

Menilik beberapa tahun silam, banyak klub sepak bola di Indonesia yang tiba-tiba disuntik dana oleh para OKB; orang-kaya-baru demi tujuan tertentu. Contohnya seperti klub asal Palembang yang secara mengejutkan memindahkan nama-nama besar macam Makan Konate menuju Jakabaring. Ternyata di balik semua itu, ada sebuah misi kotor yang ingin dicapai, sebenarnya bukan rahasia umum apabila klub tiba-tiba superior di masa-masa pemilu, hingga sekarang klub sepak bola masih menjadi salah satu kendaraan politik yang cukup seksi. Saat ini kita bisa tertawa kepada sriwijaya, klub yang cukup sial karena semua yang sudah direncanakan tidak berjalan secara mulus dan Sriwijaya kala itu ditinggalkan oleh para keparat tersebut karena merasa buntung bukan untung. Klub menjadi kehabisan bensin di tengah kompetisi, ditinggal para manajemen,dan rela melepas para pemain bintangnya untuk menghidupi roda klub.

Belajar dari pengalaman itu, rasanya publik bisa menebak beberapa alur klub yang jor-joran di awal musim dengan tujuan tertentu, tak terkecuali PSS kini. tetapi, menurut saya, dan kalian mungkin setuju kalau kita harus menyingkirkan stigma tersebut karena PSS kini tidak sedang berada di fase itu (lagi). Benar, karena sebenarnya hajatan pilkada di Sleman sudah selesai digelar tahun lalu dan lagi-lagi keluarga itu lagi, meskipun dengan kemasan yang cukup berbeda. Kalau bukan toh bukan unsur politik praktis, lantas apa alasan yang melatari PSS bertransformasi menjadi klub yang katanya jadi Los Slemanticos ini? fak! ungkapan yang sebenarnya sangat berlebihan meneurutku.

Tentu banyak asumsi yang soal apa yang menjadikan PSS seperti ini, salah satunya perkembangan industri sepak bola yang terjadi di Indonesia. Kini klub tidak hanya bertanding selama 90 menit namun juga dituntut memikirkan hal lain di luar teknis bermain bola (baca:bisnis) agar dapat eksis tiap musimnya. Tujuan dari olahraga ini mungkin sudah tidak sekedar menyusun taktik lalu mencetak gol sebanyak mungkin ke gawang lawan tetapi juga menyusun strategi-strategi bisnis agar tetap mencetak keuntungan.

Untuk membuktikan hal tersebut sebenarnya tidak sulit, terdapat tanda-tanda yang secara gamblang hadir di permukaan. Meminjam teori semiotika milik Roland Barthes, tanda-tanda yang ditemukan tersebut pasti memiliki sebuah makna. Paling baru tanda tersebut muncul dari Batata, di hari pertandingan lampau, ia sering melakukan umpan back pass kepada Bagus Munyeng maupun umpan terobosan kepada Yehven yang berbuat gol, namun berbeda kali ini. Melalui unggahannya kala itu di Instagram, sebenarnya ia tidak hanya mengirim umpan kepada rekan setimnya, namun mengirim umpan kepada Sleman Fans, kepada kita;

“Unfortunately football became a business but ourpassion will last forever”

Ucap Si-Kentang yang menjadi tulang punggung PSS musim lalu. Dari ucapan tersebut kita dengan mudah mencerna makna apa yang sedang disampaikan oleh sang pemain, alasan bisnislah yang membuat dirinya terpaksa meninggalkan Sleman lebih cepat. Terlebih hal tersebut merupakan sebuah kejadian yang sangat langka ketika pemain menyampaikan alasan non teknis atas perpindahan ke klub lain di depan khalayak umum. Dalam kasus tersebut mungkin hanya Tuhan dan MGP yang lebih tahu, lebih menegerti lagi memahami mengenai prinsip dan filosofi yang katanya sedang dibangun PSS (?). Lantas apa yang sedang dan mungkin terjadi di kemudian hari pada PSS?

PSS di semester pertama tahun ini mungkin sedang bertransformasi menuju industri sepak bola modern. Setelah dalam beberapa tahun terakhir dipegang oleh pengusaha properti yang entah tidak tahu atau tidak peduli dengan klub yang dimiliki, tidak bisa dipungkiri bahwa kini PSS di bawah nahkoda yang berorientasi kepada margin keuntungan. Pada akhirnya, PSS yang kita cintai hanya serupa dengan rumah judi macam Sbobet yang siap menerima dua kemungkinan yaitu untung dan buntung. Bila untung bukan tidak mungkin beberapa tahun kedepan PSS bagai sebuah mall yang setiap meternya bernilaikan rupiah. Dan bila buntung bukan tidak mungkin apabila PSS ditinggal pergi oleh mereka dan berpindah home base menuju kota yang lebih menjanjikan. 

Sementara, hingga kini Liga 1 belum (jelas) kapan lekas bergulir, kompetisi pra-musim juga tanpa penonton, sehingga memaksa PSS tidak dapat menjual tiket kepada Sleman Fans. Lalu bagaimana dan untuk apa klub ini membeli pemain bintang secara jor-joran? Bisa jadi untuk mencari (mencuri) perhatian. Pandangan yang cukup kontradiktif ketika fans lokal harus menjadi sapi perah klub sedang penonton asing dengan mudahnya membeli tiket dengan harga yang lebih murah dari kurs di negara asalnya. Hal tersebut mungkin terjadi karena klub sebenarnya tidak menanti kedatangan fans lokal yang mencintai klubnya setengah mati, namun lebih menanti kedatangan turis asing di stadion mereka. Pemandangan yang tidak berbeda mungkin juga terjadi di stadion Gelora Bung Tomo ketika para Bonek harus bersusah payah membeli tiket untuk sekedar masuk menonton teman semasa kecilnya yang telah promosi ke tim senior Persebaya bertanding, sungguh ironi tersebut benar-benar terjadi. Lantas kemungkinan apa yang bakal terjadi ketika fans lokal semakin susah membeli tiket pertandingan?

Menengok sepak bola di Eropa, fenomena ini sudah terjadi sejak beberapa dekade sebelumnya. Hal tersebut disebabkan karena faktor bisnis yang memaksa klub menjual tiket dengan harga tinggi dan fans dari klub-klub Inggris pun mulai mengeluhkan mengenai mahalnya tiket pertandingan home mereka. Seperti yang dilakukan fans Arsenal dan Liverpool yang membentangkan banner protes kepada klub. Ada juga sebagian fans yang memilih boikot untuk tidak menghadiri pertandingan home di musim-musim berikutnya. Sialnya sikap tersebut tidak mempan dan stadion-stadion di klub-klub tersebut tetap penuh meskipun dihadiri bukan oleh warga lokal klub tersebut.

Berbeda dengan fans Manchester United, kelompok pendukung tersebut lebih ekstrim dalam memprotes, fans memilih boikot dan mendirikan klub mereka sendiri karena merasa klub yang didukung dari kecil mulai meninggalkan mereka. Fans memilih membentuk sebuah klub bagi mereka, dari dan untuk mereka bernama FC. United of Manchester. Sebenarnya bukan tidak mungkin hal tersebut terjadi di Sleman, ketika klub sudah tidak peduli dengan identitasnya, ketika klub sudah tidak lagi menantikan kedatangan fans (kecuali hanya sebatas angka) dan ketika klub sudah tidak memperdulikan permainan 2 babak yang pada akhirnya membuat para fans memutuskan mengambil sikapnya. Sungguh realita yang tidak terbayangkan sebelumnya, namun bukan tidak mungkin itu terjadi. Apalagi di Sleman.

Semoga klub kabupaten ini tidak krisis identitas di tanahnya sendiri dan semoga PSS tetap PSS. Terakhir, untukmu MGP dan rombongan, baik menurutmu belum tentu baik menurut kami. Ya, kami. Bukan salah satu, salah dua atau salah tiga sebelum Boyolali menuju ke Surakarta, tapi kami semua.

GANIFESTO